Jakarta – Lokomotif Ruston tidak hanya berbicara tentang mesin dan industri. Di balik material dan jejak penggunaannya, terdapat cerita tentang desain, sejarah, hingga memori yang dapat menjadi sumber inspirasi untuk berkarya. Gagasan tersebut mengemuka dalam kegiatan bedah buku Lokomotif Ruston di Cepu: Estetika Material, Warisan Industri, dan Arkeologi Teknik karya Dr. Ananta Hari Noorsasetya, S.Sn., M.Ikom., di Universitas Mercu Buana (UMB), 7 Oktober 2026.
Kegiatan yang dimoderatori Junaidi Salam, S.Ds., M.Ds. ini mempertemukan Dr. Ananta Hari Noorsasetya, S.Sn., M.Ikom., dosen Program Studi Desain Produk FDSK sekaligus penulis buku, dengan Yasmin Hasni, S.Sos., M.Ds., dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual FDSK, serta Pramu Risanto, pemerhati kereta yang turut memberikan tanggapan terhadap karya. Diskusi berlangsung dengan membedah proses kreatif di balik penulisan buku sekaligus melihat lokomotif Ruston dari beragam perspektif, mulai dari desain, material, sejarah, hingga nilai yang melekat pada sebuah artefak.
Ananta menceritakan bahwa ketertarikannya terhadap lokomotif berawal dari kegemarannya mengumpulkan berbagai informasi mengenai kereta yang kemudian dituangkan ke dalam tulisan. Ia mengisahkan bahwa diskusi awal mengenai buku tersebut bermula dari sampul berbentuk kereta, tetapi justru berkembang menjadi pembahasan yang lebih luas mengenai seni rupa. Ketertarikan tersebut kemudian mengarah pada Ruston di Cepu yang memiliki keunikan sebagai bagian dari sejarah industri pada masanya.
Ananta juga menjelaskan bahwa lebih dari 500 lokomotif pernah hadir di Indonesia, tetapi Ruston di Cepu memiliki cerita tersendiri. Lokomotif tersebut pernah menjadi bagian dari mesin penggerak aktivitas industri dan meninggalkan jejak yang kemudian dapat dibaca kembali melalui perspektif desain dan budaya.
Menanggapi karya tersebut, Yasmin melihat kreativitas Ananta melalui keberagaman referensi yang hadir dalam ruang kerjanya, mulai dari karya, alat musik hingga poster. Menurutnya, proses kreatif dapat berkembang dari berbagai objek dan pengalaman yang berada di sekitar seseorang.
Yasmin kemudian mengajak peserta melihat sebuah objek melalui hubungan benda, artefak, dan cerita. Sebuah benda tidak berhenti pada bentuk fisiknya, tetapi dapat memiliki nilai ketika terdapat jejak penggunaan, konteks industri, sejarah, hingga karakter ikonik yang melekat di dalamnya. Perspektif tersebut turut mengantarkan pembahasan pada salah satu bagian buku mengenai logo.
Pembahasan buku juga mencakup prinsip form follows function, genealogi desain, material dan estetika wabi-sabi, serta bagaimana sebuah karya dapat membangun daya memori. Berbagai pembahasan tersebut menunjukkan bahwa objek lama dapat menjadi sumber imajinasi dan gagasan baru, khususnya bagi mahasiswa FDSK.
Dalam sesi diskusi, lokomotif Ruston juga dipandang tidak sekadar sebagai besi tua. Ketika dibaca melalui perspektif desain, sejarah, dan kreativitas, benda tersebut dapat memiliki nilai baru yang lebih luas. Pesan tersebut menjadi dorongan bagi mahasiswa untuk berani menghasilkan karya yang bernilai, dengan tetap fokus dan konsisten dalam mengembangkan gagasan.
Hingga 7 Oktober 2026, buku Lokomotif Ruston di Cepu telah terjual sebanyak 783 eksemplar sejak diterbitkan. Melalui kegiatan bedah buku ini, Universitas Mercu Buana menghadirkan ruang diskusi yang mempertemukan perspektif desain dan sejarah sekaligus mendorong mahasiswa untuk melihat benda di sekitar sebagai sumber pengetahuan, cerita, dan inspirasi dalam berkarya.
Berita Terbaru Lainnya
Sabtu, 10 Oktober 2026
Rabu, 7 Oktober 2026